Desa Juhu, Ikonis Pegunungan Meratus di HST Kalsel

Wisata Desa Juhu HST Kalimantan Selatan | Ciri khas tempat wisata selalu menjadi bagian paling menarik bagi para wisatawan. Jika Anda berkunjung ke Kalimantan Selatan, lebih-lebih menyambangi Pegunungan Meratus, mampir juga ke wisata Desa Juhu. Dengan ketinggian 560 meter di atas permukaan air laut kawasan pegunungan meratus, Anda akan banyak disajikan pemandangan menakjubkan di sana.

Pegunungan meratus sudah terkenal dengan bentangannya yang panjang melintasi berbagai daerah, sungai, dan pegunungan yaitu Gn. Paniti Ranggang ditambah Gunung Kilai, dan meratus ini merupakan kawasan hutan adat atau hutan lindung.

Wisata Desa Juhu Pegunungan Meratus di HST Kalsel

Juhu Village – The Beauty & Natural Village

Perjalanan Ke Desa Juhu HST

Alamat lengkap desa Juhu adalah Juhu, Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Desa Juhu sebagai desa tertinggi di kalimantan selatan 560 mdpl tersebut memiliki akses ke Desa Juhu tidaklah mudah, sebab jarak antara desa dengan pusat kota Banjarmasin sangatlah jauh. Beragam hutan belantara menyelubungi Desa Juhu. Namun di balik kesukaran itu, banyak hal-hal yang bisa Anda pelajari sepanjang perjalanan. Ketika sampai di lokasi, segala kepenatan usai perjalanan langsung sirna.

Untuk menuju Desa Juhu, anda dapat memulainya dari Kota Barabai yang jaraknya 50 km. Pada 36 km yang pertama dapat anda tempuh menggunakan mobil ataupun sepeda motor, sedangkan sisanya 14 km harus anda tempuh dengan berjalan kaki melewati hutan selama 2 hari. Bayangkan 2 hari di dalam hutan ya, tetapi tahukah anda bahwa jarak tempuh 2 hari tersebut dapat di tempuh warga desa juhu hanya dengan 8-12 jam saja!

Anda dapat menempuh start trekking atau titik awal jalur pendakian yang sama dengan mendaki gunung Halau-Halau ketika anda ingin sampai ke Desa Juhu. Tapi yang harus anda ingat adalah ketika anda sampai di pertigaan di puncak gunung Paniti Ranggang yang kontur tanahnya luas dan datar rata, Jika anda belok kanan maka itu menuju Desa Juhu, jika terus maka anda akan menuju puncak Halau Halau.

desa juhu hulu sungai tengah sejarah desa juhu pemandangan desa juhu perjalanan ke desa juhu

Kehidupan Sosial Desa Juhu

Warga Desa Juhu sangat ramah pada siapa pun, termasuk wisatawan dari luar. Adat serta paguyuban masih kental di sana. Humanisme yang dijaga erat-erat, lalu dipadu dengan pemandangan yang indah, maka tidak heran kalau Desa Juhu dinobatkan sebagai desa terindah di Kalimantan Selatan. Warga yang terhimpun di Desa Juhu merupakan suku Dayak.

Lokasi yang berada di lereng Pegunungan Meratus itu memudahkan Anda untuk melihat hutan yang benar-benar masih perawan. Di sana juga masih ada rawa-rawa dan lahan gambut. Bisa dibayangkan mata pencaharian warganya, kan? Para warga Desa Juhu sangat gesit. Bahkan untuk menjejaki tempat baru hanya dibutuhkan waktu yang singkat.

Medan untuk mencapai wisata Desa Juhu sangat menantang. Khususnya buat Anda yang tidak pernah jalan kaki ke tempat jauh. Anda akan berjuang melewati banyak tanjakan sebelum berjumpa dengan pemukiman Desa Juhu. Namun asupan oksigen yang diproduksi dari pepohonan seiring jalan akan membuat pikiran Anda fresh.

Keunikan Desa Juhu salah satunya adalah karena permukaan tanahnya berumput semua. Anda tidak akan menjumpai lapisan beton, rumah bertingkat, maupun gedung-gedung yang tinggi. Di tengah keasrian dan kealamian tempat tersebut, para warga tetap bisa tertawa dengan lepas. Mereka sungguh-sungguh menikmati karya Tuhan yang satu ini.

Anda tidak akan mendengar terlalu banyak suara pabrik maupun mesin-mesin lainnya. Layaknya desa alami, Anda seakan-akan dilempar kembali ke zaman pra-industri. Bahkan untuk memotong rumput saja mereka masih menggunakan kerbau. Tidak ada pemotong rumput sama sekali. Anak-anak kecil seringkali bermain dengan kerbau.

Banyak sekali batu-batuan di Desa Juhu yang membuat panorama alamnya kian artistik. Ketika Anda ingin melihat sunset, maka tengoklah puncak Halau-Halau. Dia akan tenggelam dan mengubah malam setelah jatuh dari Pegunungan Meratus. Sekadar informasi saja, bahwa puncak Halau-Halau merupakan puncak tertinggi di Kalimantan Selatan.

Seluruh warga Desa Juhu memeluk kepercayaan Kaharingan. Mereka betul-betul merawat apa yang ditinggalkan oleh para leluhur. Begitulah inti dari kepercayaan tersebut. Meskipun terkesan menutup diri, tetapi mereka juga terbuka untuk pendapat maupun sedikit kemajuan dari luar desa.

Secara periodik, warga Desa Juhu berkumpul mengadakan ritual khusus bernama Babalian Maharagu. Ritual tersebut bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Bisa pula bertujuan agar alam yang mereka jaga tidak jatuh ke tangan-tangan para perusak. Sekali salah satu anggota diusik, maka seluruh warga desa akan 100% membantu.

Keeratan jiwa silaturahmi tercermin di wisata Desa Juhu. Di sana tidak ada istilah individualis atau semau sendiri. Seluruh konsensus yang mengerucut harus melewati sebuah musyawarah. Masing-masing dari mereka juga sangat menerima masukan dari salah satu anggota ketika ada sebuah nilai maupun tatanan sosial yang bergeser.

Memang tidak semua anak muda di Desa Juhu sekolah hingga ke perguruan tinggi. Namun tidak menutup kemungkinan pula bila ada keluarga yang dirasa mampu, maka mereka pun melepas sang buah hati pergi ke perguruan tinggi di Barabai. Sebagai catatan: semua warga desa di Desa Juhu mengenyam pendidikan dasar sehingga mereka juga tahu baca-tulis.

Meskipun di Desa Juhu minim mesin maupun peralatan canggih, tetapi ada pula beberapa mesin yang masuk. Misalnya mesin penggilingan padi. Beberapa mesin lainnya juga sempat mampir. Sebelum mesin tersebut memasuki Desa Juhu, kebanyakan terlebih dahulu dilepas komponennya. Setelah sampai baru dirakit kembali. Keren, ya?

Jangan sungkan mampir dan melihat-lihat isi rumah warga. Nanti Anda akan terpukau sendiri. Bayangkan saja. Di sana tidak ada perabotan mewah. Lantai rumah saja terbuat dari susunan lapis bambu yang dirakit sedemikian rupa. Lampu untuk menerangi rumah juga terpasang beberapa saja.

kehidupan sosial desa juhu desa juhu barabai desa juhu hst desa juhu kalimantan selatan desa juhu pegunungan meratus

Coba rasakan ketika menginap di sana semalaman saja. Maka Anda akan mendengar suara-suara yang tidak pernah didengar ketika di kota. Serba sunyi. Bagi pendatang mungkin akan takut ketika harus keluar malam-malam. Namun bagi penduduk asli hal tersebut sudah biasa. Soalnya aktivitas sehari-hari mereka selain bercocok tanam juga berburu.

Mereka selalu dalam keadaan siaga begitu hewan liar datang menyerang. Sejauh ini nyaris tidak ada kendala yang berarti. Para hewan juga sama sebetulnya dengan manusia. Mereka hanya akan merasa terancam ketika alamnya diganggu. Termasuk eksploitasi binatang habis-habisan kemudian dijual ke pasaran.

Warga Desa Juhu tidak seperti itu. Mereka sangat menghargai alam, termasuk binatang yang menghuni di sana. Jadi antara alam, hewan, dan manusianya hidup rukun. Mereka hanya memburu binatang sekadarnya saja dengan metode berburu tradisional. Kecakapan mereka saat berburu bisa Anda ikuti langsung kalau mau.

Di internet sangat sedikit referensinya. Bahkan situs sebesar Wikipedia juga tidak menyajikan luas wilayah secara terperinci. Begitu pula kepadatan penduduk per kilometer persegi. Dengan fakta ini, memang tidak mengherankan kalau di Desa Juhu masih banyak rahasia yang belum terungkap ke luar.

Jika Anda penggemar film-film dengan latar suku pedalaman, maka Anda akan melihat langsung di sana. Selama ini Anda hanya menonton pemeran film tersebut saat mengarungi wilayah perawan, kan? Nah, coba Anda sekali saja menjadi aktor dengan media backpacker ke lokasi wisata Desa Juhu. Kemudian nikmatilah sensasinya.

Kedatangan Anda ke sana sangat membantu dunia luar untuk lebih mengenali budaya terpendam di Desa Juhu. Semakin santer informasi yang dibawa ke luar, maka semakin banyak pula yang mengenali potensi daerah wisata di Juhu. Mereka tidak akan segan-segan menanamkan investasi ke daerah tersebut ketika lokasinya semakin terkenal.

Memang alangkah baiknya kalau panorama alam di wisata Desa Juhu dijaga sebagaimana adanya. Kalaupun mau ditambah, mungkin hanya perluasan jalan akses ke sana. Jadi, daya pikat sisi magis dan keadatan masih bertahan. Interaksi warga daerah dengan pengunjung sangat penting diterapkan agar bisa menginspirasi wisata lain yang belum terungkap.